Kamis, 11 Juni 2009

6 Langkah Penanganan Stroke


Enam langkah penanganan stroke diambil dari intervensi pada perjalanan alamiah dan klinik penyakit stroke. Langkah-langkah penanganan stroke meliputi: (1) pencegahan, (2) pengenalan dini, (3) reperfusi, (4) neuroproteksi, (5) rehabilitasi, dan (6) pencegahan sekunder.


1.Pencegahan stroke
Pada prinsipnya stroke dapat dicegah. Pemahaman akan faktor risiko stroke, dan pengendalian akan faktor risiko stroke mutlak diperlukan. Faktor risiko stroke yang utama adalah hipertensi, diabetes, merokok, dan dislipidemia. Pengurangan konsumsi garam dan olahraga terbukti menurunkan stroke (SAFE, 2008). Penelitian Wang, dkk (2007) menunjukkan bahwa kampanye mewaspadai hipertensi, berhenti merokok, dan menurunkan berat badan pada masyarakat terbukti berhasil menurunkan angka kejadian stroke sampai dengan 11,4%.
Penelitian menunjukkan bahwa sebagai faktor risiko stroke yang utama, hipertensi seringkali tidak disadari. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi dijuluki sebagai si pembunuh diam-diam (the silent killers). Pasien datang berobat ketika kerusakan target organ telah sedemikian parahnya. Edukasi kepada pasien dan masyarakat luas tentang bahaya hipertensi mutlak diperlukan.


2.Pengenalan gejala dini
Stroke adalah kedaruratan medik. Semakin cepat pasien ditangani secara adekuat, semakin besar Permasalahan yang muncul adalah pasien stroke seringkali tidak segera datang ke RS. Banyak penelitian menunjukkan keterlambatan pasien stroke meminta pertolongan medis yang adekuat. Penelitian di Thailand menunjukkan bahwa hanya 20,2% pasien stroke yang datang ke RS dalam waktu kurang dari 24 jam (Asawavichienjinda dan Boogrid, 1998). Mengapa pasien datang terlambat ke RS ? Banyak penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar pasien dan keluarganya tidak mengenali gejala stroke. Edukasi kepada masyarakat untuk mengenali secara dini gejala stroke mutlak diperlukan.


3.Reperfusi dan Neuroproteksi
Gangguan fungsi saraf akan terganggu bila aliran darah otak turun. Pada kasus ini jaringan otak belum mati, namun mengalami gangguan fungsi. Bagian ini disebut sebagai bagian iskemik pneumbra. Bila gangguan aliran darah berkepanjangan dapat terjadi kematian jaringan saraf yang disebut infark. Target terapi adalah menyelamatkan jaringan pneumbra.Tindakan penyelamatan dilakukan dengan membuka sumbatan dengan obat thrombolitik. Tindakan ini jarang sekali dilakukan di Indonesia karena persyaratan yang sangat banyak. Salah satu syarat utama adalah pasien datang kurang dari 6 jam setelah serangan stroke. Inilah yang disebut dengan konsep “time is brain”.
Tindakan lain adalah dengan neuroproteksi (melindungi bagian otak). Hal ini dapat dicapai dengan pemberian obat dan pencegahan komplikasi stroke. Unit stroke yang multidisiplin dan perawatan yang lebih terstruktur terbukti menurunkan angka kematian dan komplikasi stroke.


4.Rehabilitasi
Salah satu modalitas terapi yang utama untuk membantu pemulihan pasca stroke adalah program rehabilitasi. Salah satu programm rehabilitasi yang hampir selalu dilakukan adalah terapi fisik (fisioterapi). Fisioterapi pada prinsipnya dilakukan sesegera mungkin (as soon as possible). Tentu saja hal ini disesuaikan dengan kondisi pasien.
Pasien stroke dengan gangguan bicara akan menjalani terapi wicara (speech therapy). Terapi okupasi (occupational therapy) dilakukan untuk memperbaiki fungsi kehidupan sehari-hari pasien (activities of daily living), seperti mandi, makan, berganti baju, dan menyisir rambut.


5.Pencegahan stroke ulang
Serangan stroke ulang umum dijumpai. Seangan stroke ulang pada umumnya lebih berakibat fatal daripada serangan stroke yang pertama. Penelitian Xu, dkk (2007) memperlihatkan bahwa serangan stroke ulang pada tahun pertama dijumpai pada 11,2% kasus. Pengendalian fakror risiko yang tidak baik merupakan penyebab utama munculnya serangan stroke ulang. Penelitian diatas menunjukkan bahwa serangan stroke ulang pada umumnya dijumpai pada individu dengan hipertensi yang tidak terkendali dan merokok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar